Prosesi Pembantaian Korban-Korban Tertuduh PKI Ditulis Oleh Imam Brotoseno
1. Hari hari kata kominis berseliweran di TL.2.Pesan algojo ke PKI :Sampeyan ameh tak pateni. Sak durunge tak pateni, opo sampeyan enek pesen. Nek Sampeyan wong Islam, moco syahadat disik
3. lantas apakah benar gesekan antara NU dan PKI saat itu hanya semata soal agraria!?
4. tidak melulu, tapi juga dendam bertahun tahun. Bagaimanapun tindakan PKI yang menyerang kyai, agama jadi api dalam sekam
5. maafkan.. tp jgn lupakan,
6. PKI : Monggo kulo dipejahi. Mboten enten pesen.Kulo mboten sah moco syahadat, tiang PKI kok moco syahadat. PKI mboten tepang Gusti Allah :))
7. Menarik pengakuan Chambali, sebagaimana dikutip Tempo. Dia Ketua Banser, Kecamatan Rengel, Tuban thn 1964 – 1967. Dia salah satu eksekutor
8. Saya membunuh anggota PKI bersama Pemuda Muhammadiyah dan Pemuda Barisan Rakyat ( Banra ), onderbouw Partai Nasional Indonesia
9. kayaknya dulu bukan Banra deh, adanya Gerakan Pemuda Marhaenis/GPM onderbouw PNI.
10. Kami dipanggil jadwal eksekusi. Biasanya malam hari usai salat Isya. Jadwal eksekusi sekaligus nama calon korban yg dipasok korem setempat
11. Malam pertama saya tidak langsung eksekutor. Saya ingat, kami diajak rombongan Musyawarah Pimpinan Kecamatan Rengel menuju sebuah perbukitan
12.Tepatnya perbukitan di jurang Watu Rongko, sekitar 3 kilometer arah barat kota kecamatan Rengel. Lokasinya gelap dan jauh dari pemukiman
13. Saat tiba di lokasi, terlihat ada puluhan orang berjejer di tepi jurang dg tangan terikat di belakang. Kami berbaris. Lalu muncul seseorang
14. Ia mengatakan yang diikat adalah musuh negara sekaligus membahayakan agama. Lalu gantian wakil camat, korem sampai polisi ikut pidato
15.Lalu pemuda datang dengan bawa pedang memotong leher korbannya. Darah mengalir. Tubuh tubuh tak bernyawa ditendang masuk jurang. Saya mual
16. Itu pertama kali saya melihat penyembelihan orang. Badan saya menggigil, dan saya muntah muntahl. Tapi hari selanjutnya, saya datang
17. Saya memenuhi undangan pertemuan para pemuda, tokoh agama dan Muspida Rengel. Kiai Murtadji, seorang Kyai melihat saya yang ragu ragu
18. Beliau lantas mendekati saya dan memberi wejangan agar saya tidak ragu ragu bertindak, terutama terhadap musuh negara dan musuh agama.
19.Setelah itu saya disodori gelas berisi air putih, yang kemudian saya minum. Keesokan harinya ada pemberitahuan lagi, bakal ada eksekusi
20. Seperti sebelumnya, belasan tahanan berjejer dgn tangan terikat di pinggir jurang. Hati saya tersentak ketika saya dipanggil & diberi pedang. Malam itu saya diminta menjadi eksekutor. Tangan saya gemetar ketika pedang yang saya genggam menempel di leher lelaki yang sudah pasrah. 21. Niat saya suci. Semoga Allah mengampuni saya. Sejak malam itu, entah berapa nyawa yang tewas di tangan saya.
22. Satu kejadian yang terus saya ingat sampai sekarang. Dari sekian yang dieksekusi malam itu, ada satu orang yang lolos dari maut.
23. Saya tanya orang itu, apa kamu orang Islam. Dia menjawab : Ya, saya orang Islam. Saya pertegas lagi, kalau kamu orang Islam. Dia jawab ya
24. Saya tanya, apakah bisa baca syahadat ? Dan orang itu lancar mengucap Syahadat. Tubuh saya langsung gemetar. Saya takut
25. Pedang di genggaman saya lepas dan masuk jurang. Orang orang yg menyaksikan eksekusi terdiam, lalu meminta saya pergi dari lokasi eksekusi.
26. Tulisan lama. Yang mau makan siang, jangan baca, Malah bikin tidak nafsu makan ‘ Pembantaian yang tidak tercatat ‘ —>
27. Paling sadis, pembantaian di Bali, Di Jawa tentara ( RPKAD ) harus menghasut rakyat membunuh. Di Bali, tentara harus menyetop pembunuhan
28. Banyak orang di Bali memilih Nyupat. Dieksekusi sukarela. Berpakaian putih putih datang sukarela ke algojo. Gubernur Bali memilih cara ini
29. Anak Agung Bagus Sutedja, Gubernur Bali yang dianggap kiri. Sempat ke Jakarta. Ia disusul oleh orang orang Bali sendiri. Ia memilih Nyupat
30. Gubernur Bali dibawa kembali. Di kawasan hutan di Singaraja, dia menentukan hari kematiannya. Seorang Balian pernah memanggil arwahnya
sumber : http://becze.info/prosesi-pembantaian-korban-korban-tertuduh-pki-ditulis-oleh-imam-brotoseno/
No comments:
Post a Comment